Kisah Klasik Lembaran Hati

Photo by Kelly Sikkema on Unsplash


Terkadang, apa yang sudah kita rencanakan malah tidak sesuai dengan apa yang sudah kita harapkan, seperti kalian merawat bunga, sudah di pupuk, di jaga terhadap hama, namun tetap aja kalo udah emang waktunya, pasti hama bakal datang untuk menggrogoti.

Enggan menerima pendapat satu sama lain bisa jadi penyebab sebuah konflik, sebaiknya harus di hadapi dengan pikiran terbuka, tidak terlalu cepat emosi.

Merubah sifat jelek, atau kebiasaan buruk bukanlah hal yang mudah untuk setiap orang, aku berani bertaruh, tidak ada satu dari kalian pun yang mau memiliki sifat itu, hanya saja alam bawah sadar mengendalikan karena sudah menjadi kebiasaan, dan jika kamu punya masalah dengan ini, bro, slowly! ga ada yang instan, hargailah transformasi seseorang yang ingin menjadi lebih baik, walau tidak langsung.

Untuk menjaga hati seseorang, bukanlah perkara mudah, karena hampir semua orang buta dengan ini, saat dia menjaga hati seseorang, dia lupa untuk menjaga hatinya sendiri, dan saat berpisah, hati itu hancur, lebur.

Insan manusia diberikan akal untuk berpikir, tetapi untuk masalah perasaan, terkadang akal tak bisa menjadi rekan yang baik untuk berkompromi, hatilah yang selalu memegang kendali atas semua kehendaknya, memerintah otak untuk menjadi budak.



Ada beberapa tulisan yang mengatakan lelaki memakai 99% logika, 1% hati, gw ga setuju sepenuhnya, kalian pikir lelaki sehebat itu? ini hati, kalau hancur hilang itu logika, itu kenapa banyak sekali kisah tragis yang terjadi ketika hati seseorang hancur.

Kerap kali kita dihantui dengan perasaan bersalah, kenapa harus dipertemukan jika akhirnya berpisah, dan tidak belajar dari apa yang telah terjadi, padahal jika kalian berpikir, seharusnya menjadi kita dipertemukan dan menjaga apa yang akan menjadi milik kita.

Untuk membahagiakan sesorang tidak mudah. Dengan saat kau ada disaat dia butuh, kau sudah bisa membahagiakan, kau pikir ini sepele? ga semua orang bisa lakukan, percayalah, ga semua orang bisa lakukan, ini masalah waktu, kau tak akan bisa membeli waktu walaupun 1 detik.



Sayang  

0 komentar:

Posting Komentar

 

Meet The Author

Grab my email, and send me your love letter.